
Ngawinews.com – Ngawi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, Jawa Timur, terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional dengan mendorong penerapan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB). Upaya ini menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi, Supardi, mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk mengubah pola pertanian konvensional yang cenderung bergantung pada pupuk kimia.
“Kami mendorong petani untuk beralih ke sistem pertanian yang lebih bijak, yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan berbasis inovasi teknologi,” ujar Supardi saat ditemui Ngawinews.com pada Kamis, 7 Agustus 2025.
Tradisi tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa Kabupaten Ngawi terus memperluas cakupan pertanian tanpa ketergantungan bahan kimia. Tahun 2024 lalu, sudah tercatat 22 ribu hektare lahan pertanian yang menerapkan pola PRLB.
Target besar pun telah ditetapkan. Pemerintah Kabupaten Ngawi berharap pada tahun 2025 ini, setidaknya 25 ribu hektare atau separuh dari total 49 ribu hektare lahan pertanian sudah mengadopsi sistem PRLB secara menyeluruh.
Upaya ini tidak berdiri sendiri. Strategi utama yang diusung adalah regenerasi pertanian melalui peran aktif petani milenial sebagai tonggak utama ketahanan pangan di masa depan.
Lebih lanjut, Supardi menjelaskan bahwa PRLB bukan sekadar metode tanam bebas kimia, melainkan juga mengutamakan keberlanjutan lingkungan, kearifan lokal, dan pemberdayaan komunitas tani di tingkat desa.
“Kami merangkul komunitas tani agar mereka bisa mandiri dan konsisten dalam menjaga ekosistem pangan lokal secara jangka panjang,” ungkapnya.
Di sisi lain, PRLB juga menjadi jalan masuk yang relevan bagi petani milenial. Generasi muda yang selama ini lebih tertarik pada hortikultura kini mulai melirik budidaya padi sebagai peluang usaha.
“Ini perkembangan yang menggembirakan. Anak-anak muda sudah mulai menyadari bahwa sektor pertanian bukan sekadar urusan tradisional, tetapi bisa modern, menguntungkan, dan berdampak luas,” tegas Supardi.
Untuk memperkuat hal itu, Pemkab Ngawi menyediakan pelatihan teknis dan pendampingan lapangan. Mereka juga diberi akses teknologi pertanian serta cara memasarkan hasil panen lewat platform digital.
“Kami memberi ruang kepada petani milenial untuk berinovasi. Tidak hanya cara tanam, tapi juga cara menjual hasilnya dengan lebih efektif dan luas,” tuturnya.
Lahan pertanian di Ngawi sendiri didominasi oleh budidaya padi seluas 45 ribu hektare, sementara sekitar 4 ribu hektare lainnya dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura seperti melon, cabai, tomat, dan berbagai sayuran.
Pemerintah meyakini, kombinasi antara PRLB dan semangat muda para petani milenial akan membawa perubahan besar bagi sektor pertanian. Langkah ini juga bisa menjadi model nasional dalam pengembangan pertanian berkelanjutan.
“Kami ingin Ngawi jadi contoh. Bukan hanya berhasil menjaga ketahanan pangan, tapi juga mampu mewariskan semangat bertani yang sehat dan modern kepada generasi selanjutnya,” pungkasnya.
Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak dinilai penting agar PRLB benar-benar mengakar di masyarakat. Diharapkan, perubahan ini tidak hanya berdampak pada produksi pangan, namun juga pada kesejahteraan petani dan lingkungan hidup di Ngawi.
Pewarta: Haryanto
Editor: Yop











