Ngawinews.com, Ngawi – Tradisi lokal kerap menjadi jembatan bagi generasi sekarang untuk memahami akar budaya leluhur. Hal itu pula yang menginspirasi Riana Fathonatul Qoidah, M.Pd., penulis buku Tradisi Keduk Beji, dalam karyanya yang baru saja dibedah dalam acara bimbingan kepenulisan dan bedah buku di Gedung Kesenian Ngawi, Rabu (17/9/2025).
Acara ini terselenggara atas kerja sama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ngawi dengan berbagai komunitas literasi. Hadir dalam kesempatan itu para pelajar SMA dan SMK, Mahasiswa, masyarakat umum, budayawan Ngawi, serta penggerak literasi yang selama ini aktif menumbuhkan ekosistem budaya baca dan tulis di daerah.
Riana mengaku terdorong menulis agar kearifan budaya Ngawi dapat lebih dikenal luas, bukan hanya di daerah sendiri, melainkan juga di kancah nasional bahkan dunia.
“Saya pengin memperkenalkan budaya-budaya kearifan di Kabupaten Ngawi ini kepada dunia luar. Karena ketika menulis maka dunia akan mengenal kita. Dan untuk menulis agar dunia bisa mengenal kita, kita harus membaca. Dengan membaca maka kita akan mengenal dunia,” ujarnya.
Dalam proses penulisan, Riana melakukan riset mendalam dengan metode kombinasi, mulai dari wawancara hingga studi arsip. Ia menilai, menulis sejarah tidak sekadar menyalin catatan, melainkan juga membuka kembali tabir yang sudah lama tertutup.
“Untuk menulis, mengumpulkan data itu harus ada mix antara interview, riset, dan arsip-arsip dari jurnal. Semua itu sangat mendukung agar tulisan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” imbuhnya.
Meski demikian, tantangan terbesar menurutnya adalah minimnya referensi tertulis. Karena itu, ia banyak menggali informasi dari para sesepuh desa. Sayangnya, jika sesepuh sudah wafat, maka rantai pengetahuan pun bisa terputus.
“Tantangan terbesar adalah minimnya referensi, sehingga kita harus menambahkan cerita-cerita dari para sesepuh. Kalau sesepuh sudah meninggal, ya putus. Maka yang bisa kita lakukan adalah menggali sejarah-sejarah yang masih ada,” tegasnya.
Riana menjelaskan, filosofi utama tradisi Keduk Beji adalah wadah untuk menggali nilai kearifan lokal. Setiap simbol dan sesaji dalam tradisi itu mengandung makna tersendiri yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Tradisi itu adalah wadah. Wadah bagaimana kita menggali dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dari nenek moyang. Ada tumpengan, cok bakal, kembang, jenang, dan lain-lain. Semua itu simbol dengan makna yang dalam,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan adanya unsur sinkretisme dalam tradisi tersebut, terutama pengaruh budaya Hindu yang masih terlihat dari peninggalan berupa arca dan sesajen.
“Tradisi itu pasti ada campuran. Dalam Keduk Beji ada budaya Hindu, terlihat dari adanya arca dan sesajen yang menjadi pertanda,” lanjutnya.
Namun, Riana menilai keterlibatan generasi muda dalam pelestarian tradisi masih sangat minim. Menurutnya, anak muda perlu dilatih untuk mencari data, membaca sejarah, hingga menuliskannya kembali agar warisan budaya tidak hilang begitu saja.
“Peran generasi muda masih minim sekali. Mereka tidak tahu harus mencari data ke mana. Padahal, untuk bisa menulis itu butuh pengalaman yang bertahap, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya bisa menghasilkan karya,” tuturnya.
Lebih dalam, ia menyampaikan pesan moral bahwa tradisi bukan sekadar seremoni, tetapi juga energi yang menghubungkan manusia dengan alam semesta. Baginya, hidup yang bermakna lahir dari getaran positif yang kita berikan kepada lingkungan sekitar.
“Semesta ini adalah energi. Vibrasi kita adalah doa yang paling jujur. Kalau kita berikan syukur, cinta, kasih, kejujuran, maka getaran itu akan kembali positif. Bahkan benda padat seperti batu pun bergetar. Jadi hidup yang bermakna dimulai dari vibrasi positif,” pungkasnya.
Harapan Riana, buku Tradisi Keduk Beji tidak hanya dibaca secara pasif, tetapi juga dikritisi secara akademis oleh pembaca agar bisa menjadi lebih baik pada edisi-edisi berikutnya.
“Harapan saya, pembaca tidak hanya mengikuti alur, tetapi kritis. Karena sehebat apapun tulisan pasti ada kekurangan. Dari kritik itu buku bisa disempurnakan pada revisi berikutnya,” jelasnya.
Sementara terkait acara bedah buku yang ia hadiri, Riana menyebut tujuan utamanya adalah menggiatkan literasi serta menumbuhkan kecintaan generasi muda pada sejarah.
“Maksud dan tujuan acara ini adalah menggiatkan literasi dan membuat generasi milenial cinta sejarah. Dengan cinta sejarah, identitas kita tidak akan pernah tertukar, luntur, atau hilang,” tandasnya.