Literasi Budaya Lokal Menggema di Ngawi: 80 Pelajar dan Mahasiswa Rampungkan Buku Antologi

NgawiNews.com, Ngawi – Semangat literasi berbasis budaya lokal menggema di Gedung Kesenian Pemerintah Kabupaten Ngawi pada Rabu (26/06). Sebanyak 80 peserta dari kalangan pelajar SLTA dan mahasiswa mengikuti fase ketiga atau final Bimbingan Teknis Penulisan Karya Berbasis Kearifan Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Ngawi. Acara ini menandai puncak dari serangkaian proses panjang yang dimulai sejak Mei lalu.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program nasional Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik yang fokus pada pengembangan perpustakaan dan literasi. Peserta telah melewati tiga tahapan penting—sosialisasi, pendampingan menulis, hingga finalisasi pracetak. Tujuan akhirnya adalah menghasilkan buku antologi berisi tulisan-tulisan bertema budaya lokal Ngawi.

“Output dari Bimtek ini berupa buku. Tidak diperjualbelikan, tapi dibagikan kepada peserta dan diserahkan kepada Bupati Ngawi sebagai simbol apresiasi atas hasil karya generasi muda,” ujar Suyatno, MM, Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Dinas Perpustakaan Kabupaten Ngawi.

Dalam sesi acara, tiga narasumber utama memberikan bimbingan dan refleksi terhadap karya para peserta. Salah satunya, Dr. Cahyono Widianto, Ketua Dewan Kesenian Ngawi, menyampaikan pentingnya menulis sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya instan.

“Mereka boleh jadi apa saja—dokter, insinyur, politikus—tapi jadilah yang juga menulis. Karena peradaban hari ini ditentukan oleh kekuatan literasi,” tegasnya.

Senada dengan itu, Hanifah Hikmawati, M.Sos., dosen IAI Ngawi dan peneliti budaya, menekankan perlunya kolaborasi manusia dengan teknologi, termasuk AI.

“AI bisa menjadi asisten, bukan pengganti. Karena emosi dan kepekaan budaya hanya dimiliki oleh manusia,” jelasnya saat sesi tanya jawab.

Riana Fatonatul Faidah, Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMP) Kabupaten Ngawi, turut mendampingi peserta dalam riset dan penulisan di lapangan, terutama di lokasi-lokasi wisata.

“Tantangan menulis nonfiksi adalah validitas data. Kami ajarkan mereka wawancara, riset, dan menggunakan referensi otentik,” ungkapnya.

Karya peserta akan dibukukan dalam bentuk antologi bertema budaya lokal, sebagai bukti nyata bahwa generasi muda Ngawi tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga peduli terhadap identitas lokal. Proses pendampingan dilakukan secara intens, termasuk evaluasi individu setiap tulisan oleh narasumber.

Meskipun dihadapkan pada tantangan rendahnya minat baca dan dominasi media digital, para pendamping yakin bahwa literasi tidak bisa digantikan.

“Literasi digital tetap butuh pondasi membaca dan menulis. Tanpa itu, generasi kita hanya jadi penyalin, bukan pemikir,” tambah Dr. Cahyono.

Kegiatan ini menjadi simbol perlawanan terhadap budaya instan dan ajakan untuk kembali mencintai aksara. Bahkan, perpustakaan desa kini sudah mulai berinovasi melalui barcode digital dan titik baca di berbagai wilayah Ngawi.

Dinas Perpustakaan Ngawi berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Rencananya, seluruh rangkaian program literasi akan ditutup dengan Festival Literasi pada September mendatang, bertepatan dengan Hari Kunjung Perpustakaan Nasional.

“Semua kegiatan ini bagian dari paket 11 program literasi. Mulai dari lomba, loka karya, hingga bimtek seperti ini. Harapan kami, tumbuh penulis-penulis muda yang bisa menarasikan budaya lokal dengan cara yang relevan,” tutup Suyatno.

Dengan terbitnya buku hasil Bimtek ini, Kabupaten Ngawi kembali menegaskan komitmennya sebagai daerah yang tak hanya kaya tradisi, tapi juga aktif mengarsipkan kearifan lokal dalam bentuk tulisan yang akan menjadi warisan generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *